SEJARAH TANJIDOR
Sejarahnya, Tanjidor muncul pertama kali di Tanah Air pada abad ke-19 tepatnya tahun 1820. Dikutip dari Wikipedia, bahwa Augustijn Michiels, atau saat itu lebih dikenal dengan Mayor Jantje, yang pertama kali menggunakannya di daerah Citrap - sekarang dikenal Citeureup. Ia disebut-sebut sangat berperan besar dalam pembentukan orkes Tanjidor.
Keluarga Mayor Jantje memang sangat kaya. Ia memiliki banyak tanah dengan villa-villa mewah di atasnya, dan karena itu juga ia memiliki banyak budak pribumi.
Agar ada yang memainkan alat musik yang dibawanya, Sang Mayor lalu membuat kelompok musik yang diberi nama Het Muziek Corps der Papangers. Yang menarik, para pemain musik adalah budaknya sendiri. Agar budak-budaknya itu mumpuni bermain musik, ia memanggil guru les dari Belanda untuk mengajari mereka bermain musik.
Para budak ini memainkan alat-alat musik khas Eropa seperti tamburin Turki, terompet Perancis, drum bas, dan clarinet. Mayor Jantje sering menyuruh grup musiknya ini bermain ketika ia mengadkan pesta atau jamuan makan.
Saat perbudakan dihapuskan pada tahun 1860, budak-budak ini meerdeka kemudian membentuk perkumpulan musik yang dinamakan Tanjidor dengan gaya musik yang tidak berubah. Dari situlah Tanjidor mulai dikenal dan berkembang hingga daerah pinggiran Jakarta seperti Depok, Cibinong, Citeureup, Jonggol, Parung, Bogor, Bekasi dan Tangerang.
Cara memainkan Alat Musik Tanjidor cukup mudah, setiap orang dalam grup memiliki tugasnya masing-masing sesuai dengan alat music yang di pegangnya. Dalam satu grup biasanya terdiri dari 7 hingga 10 orang tergantung banyak atau tidaknya alat music yang di mainkan. Kemudian para pemain mulai memainkan alat musiknya masing-masing dengan selaras sesuai dengan nadanya.
Selain alat music tiup, biasanya di dalam grup orkes tanjidor juga terdapat alat music lainnya yang di gunakan sebagai pengiring dan pelengkap. Misalnya saja alat music tabuh seperti drum maupun alat music gesek seperti tehyan contohnya.







0 komentar:
Posting Komentar